Hakim PA Mempawah Menjadi Nara Sumber
Bahsul Masail Kubro

 

 
Foto: Spanduk acara Bahsul Masail Kubro/Sourch: PC NU Mempawah

 

Kabar berita || www.pa-mempawah.go.id

Mempawah – Bertempat di Gedung Candramidi Kabupaten Mempawah, hari Ahad ini (14/02/2021) Lembaga Bahsul Masail (LBM) Nadhatul Ulama (NU) Kabupaten Mempawah menyelenggarakan acara Bahsul Masail Kubro yang diikuti oleh LBM NU se Kalimantan Barat. Acara ini sendiri merupakan acara rutin yang diselenggarakan lembaga sayap Nahdhatul Ulama ini. Adapun tujuannya adalah untuk membahas segala persoalan yang berkaitan dengan masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, hukum dan lainnya. Pembahasan permasalahan ini akan dipandang dari sudut keagamaan dengan menggali pendapat-pendapat para ulama yang ada dalam literatur kitab-kitab para ulama salaf dan khalaf.

Pada kesempatan tersebut, panitia acara mengundang Pengadilan Agama dengan maksud memberikan penjelasan terkait beberapa persoalan yang berkaitan dengan prosedur persidangan perkara perceraian di Peradilan Agama. Salah satu Hakim yang ditunjuk untuk menghadiri acara tersebut adalah Taufik Rahayu Syam, SHI, MSI. Hakim asal Majalengka Jawa Barat ini menjelakan terkait Putusan Hakim Pengadilan Agama karena Tergugat tidak hadir.

Hal ini karena ada kaitannya dengan salah satu poin bahsul masail terkait perkara perceraian. Dalam poin tersebut terdapat sebuah Deskripsi masalah: Seorang suami yang tidak memenuhi hakim sebanyak 3 kali panggilan, hakim akan menjatuhkan talak pada isteri yang menuntut talak kepada suaminya sebab suami tidak memenuhi kewajibannya? Adapun yang dipertanyakan adalah Sahkan seorang hakim menjatuhkan talak dengan  dasar suami tidak memenuhi panggilan hakim sebanyak tiga kali?

Menanggapi hal tersebut, Hakim Taufik Rahayu Syam menjelaskan secara gamblang bahwa pada dasarnya Hakim dalam memutus perkara bukan semata-mata karena ketidak hadiran Tergugat. Tapi juga karena Penggugat bisa membuktikan dalil-dalilnya.

Pada kesempatan ini kami perlu menjelaskan, bahwa para Hakim Pengadilan Agama, dalam menjatuhkan putusan, termasuk putusan perkara perceraian, itu tidak semata-mata melihat ketidak hadiran pihak Tergugat, tapi yang lebih penting adalah apakah Penggugat bisa membuktikan dalil-dalilnya atau tidak. Walau demikian Panggilan kepada para pihak merupakan proses yang sangat penting, karena apabila Tergugat tidak dipanggil persidangan tidak akan dilaksanakan. Ibaratnya, panggilan kepada para pihak itu seperti pintu yang dikunci. Untuk membuka pintu membutuhkan kunci, nah panggilan kepada para pihak juga merupakan kunci untuk menggelar persidangan”  Terang alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Lebih kanjut Taufik menjelaskan terkait alasan-alasan perceraian. Menurutnya, Undang-Undang telah membatasi warga negara untuk bercerai di Pengadilan.  Warga Negara Indonesia tidak dapat melakukan perceraian apabila tidak ada alasan – alasan yang ditentukan peraturan perundang-undangan.  Dalam hal ini, pada Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 jo Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam disebutkan mengenai alasan-elasan perceraian. Yaitu sebagai berikut: (a). salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan; (b) salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya; (c). salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung. (d). salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain; (e). Salah satu pihak mendapat cacat badab atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri; (f). antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga; (g). Suami menlanggar taklik talak; (h). peralihan agama tau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Setelah pemaparan dari Hakim taufik tersebut, para peserta Bahsul Masail banyak yang mengajukan pertanyaan seputar materi yang disampaikan tersebut. Beberapa diantaranya ada yang bertanya terkait bagaimana apabila surat kepada Tergugat tidak diterima langsung atau ada yang bertanya terkait tata cara memanggil Tergugat yang tidak diketahui alamatnya., ada juga yang bertanya terkait alat-alat bukti di persidangan dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara lugas oleh Taufik. Adapun terkait hasil dari Bahsul Masail itu sendiri akan ditentukan dan dibahas oleh Para peserta, sedangkan Hakim Pengadilan Agama Mempawah hanya menjelaskan terkait praktek persidangan atau tata cara pengambilan keptusan oleh Hakim Pengadilan Agama. (Firza)